Jokowi, Raja Pasca-Jawa?

Penulis : Dhimam Abror Djuraid*

Lamun sira sekti aja mateni, lamun sira banter aja ndisiki, lamun sira pinter aja minteri

Presiden Joko Widodo hampir tidak pernah mengutip filosofi kekuasaan Jawa dalam komunikasi politiknya. Tapi, beberapa saat setelah pelantikannya sebagai presiden periode kedua Juli 2019 lalu, Jokowi mengutip tiga butir filosofi kekuasaan Jawa: Kalau kamu perkasa jangan membunuh, kalau kamu kencang jangan mendahului, kalau kamu pintar jangan memintari

Di antara tujuh presiden Indonesia, semua, kecuali Habibie, adalah orang Jawa. Tapi, di antara mereka hanya Soeharto yang secara rutin mengutip falsafah Jawa sebagai falsafah politik dan pemerintahannya.

“Presiden Jawa” lainnya nyaris tak pernah mengutip falsafah Jawa. Bung Karno lebih asyik dengan referensi pemikir-pemikir dunia, baik dari Barat, Timur, dan pemikiran-pemikiran klasik Yunani dan lainnya.

Sepeninggal Pak Harto, Presiden Gus Dur lebih identik dengan budaya dan khazanah pemikiran pesantren dalam kutipan-kutipannya. Sebagaimana Bung Karno, Gus Dur mempunyai referensi filsafat politik yang sangat kaya, dan karenanya dia tidak secara spesifik merujuk pada filsafat Jawa dalam pidato-pidatonya.

Di era Megawati kita tidak terlalu sering mendengar ide-idenya mengenai filsafat politik selain kosa-kata Jawa yang diulang-ulang di berbagai kesempatan, yaitu “wong cilik”. Selebihnya kita tidak pernah mendengar apa pun.

Habibie berusaha melakukan emulasi dalam beberapa filosofi Pak Harto yang menjadi mentornya. Tapi, Habibie adalah mesin made in Germany yang sophisticated dan serba mekanik-positivistik. Tak cocok dengan filosofi kekuasaan Jawa, kekuasaan Habibie hanya seumur jagung dan berakhir karena kudeta politik orang-orang sekitarnya di Partai Golkar.

Susilo Bambang Yudhoyono seharusnya paling Jawa dibanding tiga pendahulunya pasca-Soeharto. Tapi, meskipun dalam solah bawa, tingkah laku, SBY adalah seorang ksatria Jawa, tapi dia adalah jenderal didikan Amerika yang berpikiran demokratis global. Dia berperilaku Jawa tapi berpikir global.

Joko Widodo hampir mirip dengan SBY dalam hal latar belakang sosiologis sebagai manusia Jawa mataraman. Bedanya, SBY adalah tentara ksatria yang priyayi, Jokowi berlatar belakang pedagang, yang dalam strata sosial Jawa masuk dalam kategori kawula (Kuntowijoyo, 2004).

Dalam esainya “Raja, Priyayi, dan Kawula” Kuntowijoyo membagi strata sosial masyarakat Surakarta di abad ke-20 menjadi tiga kelompok, raja, priyayi, dan kawula. Para pedagang dan saudagar masuk dalam kategori ketiga sehingga masyarakat agak meremehkan, lock down, terhadap profesi pedagang maupun saudagar.

Bagi Jokowi latar belakang sebagai kawula justru menjadi kekuatannya. Ia secara sadar melancarkan jurus komunikasi politik sebagai representasi kawula, wong cilik, dengan memakai idiom-idiom rakyat dan berpenampilan merakyat.

Gaya komunikasi politik Jokowi yang humble, lembah manah, andap asor, dengan cepat menjadikannya idola yang melesat secara meteorik. Pada saat yang sama masyarakat mengalami disilusi dan kejenuhan terhadap kekuasaan yang pongah dan bossy, sok ngebos.

Jokowi menjadi antitesis kekuasaan yang selama ini dipersepsikan sebagai wahyu kedaton yang turun dari langit. Jokowi mendekonstruksi semua stereo-type kekuasaan Jawa yang serba jaim, jaga image dan penuh unggah-ungguh yang membosankan.

Dalam khazanah Babad Tanah Jawi Jokowi mungkin mirip Ki Ageng Pengging, sama-sama dari Boyolali, yang berhasil memindah episentrum kekuasaan dari Demak yang pesisir ke Pajang yang agraris. Itulah yang coba dilakukan oleh Jokowi dengan memindah episentrum kekuasaan dari tanah Jawa ke Kalimantan, dari Jakarta ke Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kutai Kertanegara.

Para presiden terdahulu adalah para penguasa Jawa, raja-raja Jawa yang berparadigma Jawa-sentris, Jawa sebagai episentrum kekuasaan. Jokowi mendekonstruksi paradigma itu. Dalam dokumen Nawa Cita, sembilan prioritas pembangunan disebutkan “Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan”.

Dalam berbagai kesempatan Jokowi memakai pakaian tradisional dari berbagai daerah. Ia mengadakan acara-acara kenegaraan nasional keluar dari Jakarta ke daerah-daerah. Membangun infrastruktur di luar Jawa untuk membangun konektivitas menjadi obsesinya.

Jokowi adalah penguasa pasca-Jawa. Dialah Raja Pasca-Jawa yang mendekonstruksi semua paradigma kekuasaan lama sejak Sukarno. Itu pulalah yang membuat Jokowi menjaga jarak dari penggunaan idiom-idiom filsafat Jawa dalam komunikasi politiknya.

Tentu saja Jokowi tetap manusia Jawa dalam kehidupan personal. Ia menjalankan praktik-praktik Jawa seperti puasa untuk tirakat dan memilih hari baik dan buruk. Ia bukan intelektual yang beroleh ilmu ta’limiyat dari sekolahan. Ia memperoleh pengetahuan dan ngelmu laduniyah lewat tirakat dan laku. Ia menjauhi pantangan-pantangan dan menghindari tabu.

Suatu ketika Mensesneg Pramono Anung meminta Pesiden Jokowi untuk tidak berkunjung ke Kediri karena adanya mitos presiden yang berkunjung ke Kediri akan kehilangan kekuasaannya. Soekarno, Gus Dur, Habibie tak percaya mitos itu. Pak Harto memilih tidak mengunjungi Kediri selama kekuasaannya. SBY mengunjungi Kediri sebagai pribadi didampingi Hamengku Buwono X sebagai raja Jawa yang asli.

Ketika ibundanya Sudjiatmi Notomihardjo meninggal dunia akhir Maret lalu Jokowi melakukan brobosan, berjalan melewati bawah keranda jenazah ibunda, sebuah ritual khas Jawa. Jokowi disebut kehilangan pepunden yang menjadi inspirasi kekuatan politiknya sebagaimana Pak Harto kehilangan Bu Tien pada 1996, dan SBY kehilangan Ny. Ani Yudhoyono, 2019.

Pernyataan lamun sira sekti memunculkan berbagai tafsir politik, karena pernyataan itu “sangat Jawa”. Apakah Jokowi masih terap memersepsikan diri sebagai Raja Pasca-Jawa pada periode kedua kekuasaannya sekarang, ataukah dia sudah berani membuka jatidiri sebagai Raja Jawa sebagaimana para pendahulunya?

Tidak ada konsep oposisi dalam filosofi kekuasaan Jawa. Karena itu meskipun menjadi sakti karena menang perang dia tidak mateni, tidak membunuh. Maka Prabowo pun tidak dipateni, malah dirangkul dan dipangku.

Lamun sira banter aja ndisiki. Lamun sira pinter aja minteri. Kepada siapa pernyataan itu paling tepat ditujukan oleh Jokowi? Dalam krisis penanganan virus Covid-19 sekarang inilah pernyataan itu terasa relevansinya.

Ia raja yang harus didengar, jangan didahului. Ia bukan raja yang pintar, tapi jangan dipinteri.

John Pamberton dan Ben Anderson yang banyak melakukan riset mengenai konsep kekuasaan Jawa menyatakan raja tidak boleh salah, idu geni, ludah api, sabda pandita ratu, ucapannya adalah sabda yang menjadi hukum, sabda raja adalah sabda Tuhan. Pantang malu, pantang mengingkari sabdanya.

Sekali tidak lockdown tetap tidak lockdown. Di Malaysia tidak ada lockdown, yang ada ialah kawalan pergerakan. Di Indonesia tidak ada lockdown, tidak ada karantina wilayah, karantina mandiri, zero mobility, atau apapun istilahnya. Yang ada hanyalah Pembatasan Soosial Berskala Besar, atau apalah, you name it, asal bukan lockdown. Perdebatan semantik ini sangatlah penting, karena Raja pantang dipinteri, pantang didahului.

Raja Pasca-Jawa atau Little Soeharto? Itulah pertanyaan yang coba dikulik beberapa ilmuwan politik. Pada masa awal-awal berkuasa Soeharto seorang demokrat. Tapi, seiring dengan perjalanan waktu ia mengkonsolidasi kekuasaan dan membangun dinasti.

Masa awal Jokowi mirip seperti itu. Masa kekuasaan periode kedua lebih terasa konsolidasi kekuasaan yang dilakukan nyaris tanpa oposisi, revisi UU KPK, Omnibus Law, UU Minerba.

Raja-raja Jawa membangun dinasti, Soekarno, Soeharto, Megawati, SBY. Sekarang kita menyaksikan proses kemunculan dinasti baru, Gibran Rakabuming, Kaesang Pangarep, Bobby Nasution, atau mungkin nanti, Jan Ethes.

The king can do no wrong. Raja tidak boleh salah. Raja telanjang pun oleh pembisiknya dibilang berbusana bagus, seperti kisah The Emperor Wears No Clothe.

Hanya ada dua pasal yang berlaku bagi Sang Raja. Pasal Pertama: Raja tidak pernah salah. Pasal Kedua: Kalau Raja salah, lihat pasal pertama.

The end.

*) Dhimam Abror Djuraid, Doktor Ilmu Komunikasi dari Unpad Bandung.

So, you think you are ready to trade? Make sure you read this section to learn how you can go about setting up a forex account so that you can start trading currencies. We'll also mention other factors that you should be aware of before you take this step. We will then discuss how to trade forex and the different types of orders that can be placed. Opening A Forex Brokerage Account Trading forex is similar to the equity market because individuals interested in trading need to open up a trading account. Like the equity market, each forex account and the services it provides differ, so it is important that you find the right one. Below we will talk about some of the factors that should be considered when selecting a forex account. Leverage Leverage is basically the ability to control large amounts of capital, using very little of your own capital; the higher the leverage, the higher the level of risk. The amount of leverage on an account differs depending on the account itself, but most use a factor of at least 50:1, with some being as high as 250:1. A leverage factor of 50:1 means that for every dollar you have in your account you control up to $50. For example, if a trader has $1,000 in his or her account, the broker will lend that person $50,000 to trade in the market. This leverage also makes your margin, or the amount you have to have in the account to trade a certain amount, very low. In equities, margin is usually at least 50%, while the leverage of 50:1 is equivalent to 2%. Leverage is seen as a major benefit of forex trading, as it allows you to make large gains with a small investment. However, leverage can also be an extreme negative if a trade moves against you because your losses also are amplified by the leverage. With this kind of leverage, there is the real possibility that you can lose more than you invested - although most firms have protective stops preventing an account from going negative. For this reason, it is vital that you remember this when opening an account and that when you determine your desired leverage you understand the risks involved. Commissions and Fees Another major benefit of forex accounts is that trading within them is done on a commission-free basis. This is unlike equity accounts, in which you pay the broker a fee for each trade. The reason for this is that you are dealing directly with market makers and do not have to go through other parties like brokers. This may sound too good to be true, but rest assured that market makers are still making money each time you trade. Remember the bid and ask from the previous section? Each time a trade is made, it is the market makers that capture the spread between these two. Therefore, if the bid/ask for a foreign currency is 1.5200/50, the market maker captures the difference (50 basis points). If you are planning on opening a forex account, it is important to know that each firm has different spreads on foreign currency pairs traded through them. While they will often differ by only a few pips (0.0001), this can be meaningful if you trade a lot over time. So when opening an account make sure to find out the pip spread that it has on foreign currency pairs you are looking to trade. Other Factors There are a lot of differences between each forex firm and the accounts they offer, so it is important to review each before making a commitment. Each company will offer different levels of services and programs along with fees above and beyond actual trading costs. Also, due to the less regulated nature of the forex market, it is important to go with a reputable company. (For more information on what to look for when opening an account, read Wading Into The Currency Market. If you are not ready to open a "real money" account but want to try your hand at forex trading, read Demo Before You Dive In.) How to Trade Forex Now that you know some important factors to be aware of when opening a forex account, we will take a look at what exactly you can trade within that account. The two main ways to trade in the foreign currency market is the simple buying and selling of currency pairs, where you go long one currency and short another. The second way is through the purchasing of derivatives that track the movements of a specific currency pair. Both of these techniques are highly similar to techniques in the equities market.The most common way is to simply buy and sell currency pairs, much in the same way most individuals buy and sell stocks. In this case, you are hoping the value of the pair itself changes in a favorable manner. If you go long a currency pair, you are hoping that the value of the pair increases. For example, let's say that you took a long position in the USD/CAD pair - you will make money if the value of this pair goes up, and lose money if it falls. This pair rises when the U.S. dollar increases in value against the Canadian dollar, so it is a bet on the U.S. dollar. The other option is to use derivative products, such as options and futures, to profit from changes in the value of currencies. If you buy an option on a currency pair, you are gaining the right to purchase a currency pair at a set rate before a set point in time. A futures contract, on the other hand, creates the obligation to buy the currency at a set point in time. Both of these trading techniques are usually only used by more advanced traders, but it is important to at least be familiar with them. (For more on this, try Getting Started in Forex Options and our tutorials, Option Spread Strategies and Options Basics Tutorial.) Types of Orders A trader looking to open a new position will likely use either a market order or a limit order. The incorporation of these order types remains the same as when they are used in the equity markets. A market order gives a forex trader the ability to obtain the currency at whatever exchange rate it is currently trading at in the market, while a limit order allows the trader to specify a certain entry price. (For a brief refresher of these orders, see The Basics of Order Entry.) Forex traders who already hold an open position may want to consider using a take-profit order to lock in a profit. Say, for example, that a trader is confident that the GBP/USD rate will reach 1.7800, but is not as sure that the rate could climb any higher. A trader could use a take-profit order, which would automatically close his or her position when the rate reaches 1.7800, locking in their profits. Another tool that can be used when traders hold open positions is the stop-loss order. This order allows traders to determine how much the rate can decline before the position is closed and further losses are accumulated. Therefore, if the GBP/USD rate begins to drop, an investor can place a stop-loss that will close the position (for example at 1.7787), in order to prevent any further losses. As you can see, the type of orders that you can enter in your forex trading account are similar to those found in equity accounts. Having a good understanding of these orders is critical before placing your first trade. If you want to read more, see these frequently asked questions How does the forex market trade 24 hours a day?, Why is currency always quoted in pairs? and What is the value of one pip and why are they different between currency pairs? Read more: Forex Tutorial: How To Trade & Open A Forex Account https://www.investopedia.com/university/forexmarket/forex8.asp#ixzz52b6myyy3 Follow us: Investopedia on Facebook

Leave a Reply